Rabu, 10 Juni 2015


Sehari di Banyuwangi memang gak cukup karena banyak tempat wisata yang harus dikunjungi. Selain banyak, jarak antar tempat wisata memang jauh, sejauh hubungan asmara yang lagi renggang. Tapi mending renggang, daripada gak punya pacar alias jomblo. Terus berapa hari waktu yang cukup? Minimal 3 hari, maksimal sampai mati. Nah, selama di Banyuwangi mau menginap di mana? Berikut beberapa tempat menginap yang murah meriah alias low budget, low cost, dan low watt (kayak majic jar).

  1. Masjid
Gak ada salahnya menginap di masjid, yang salah kalo bawa tenda terus dibangun di halaman masjid. Banyak masjid di sini, tinggal pilih dan ijin sama pengurus masjid. Tentunya ada etika yang harus dijaga kalo nginep di masjid, yaitu pakaian harus sopan, waktunya sholat ya sholat jangan malah ngepel masjid. Dan ingat microphone dan speaker masjid jangan digondol.

  1. Emperan Toko
Kalo pengen menghemat budget coba aja nginep di emperan toko. Ratusan toko di Banyuwangi bersih dan halus untuk ditiduri. Anggap aja meniduri anggota JKT 48. Gak perlu persiapan khusus untuk tidur di emperan toko, hanya mempersiapkan selembar kain saja untuk selimut karena angin malam di Banyuwangi cukup dahsyat. Tentunya mental juga harus dipersiapkan, yaitu mental gak punya malu dan mental orang gila. Dan jangan lupa waspada selalu dengan satpol PP.

  1. Kantor Polisi
Ya, Kantor Polisi bisa buat menginap. Bilang aja sama petugas jaganya ketinggalan kereta dan uang habis untuk pulang. Jangan lupa pasang muka melas dan pantas untuk dikasihani. Seorang teman sudah pernah mencoba tidur di Kantor Polisi di kota lain, dan trust me, it works. Kalo masih ditolak dan gak dikasih ijin untuk menginap, coba aja nyolong ayam di pasar. Niscaya kamu akan menginap gratis di kantor polisi.

  1. Hotel
Nah ini mungkin informasi yang paling bener dan akurat dari tulisan di atas. Berikut beberapa hotel budget di Banyuwangi:
a.       Losmen Anda
Alamat: Jl. Basuki Rahmat No. 37 Banyuwangi
Telp: 0333-424441
Rate: Rp. 100.000

b.      Hotel Berlian Abadi
Alamat: Jl. Yos Sudarso No. 165 Banyuwangi
Telp: 0333-412470
Kolam renang tersedia
Rate:
Standart Rp. 100.000, Fan+TV+Breakfast
Standart Superior Rp. 175.000, AC+TV+Breakfast
Superior Rp. 225.000, AC+TV+Breakfast+Hot Water
Deluxe Rp. 285.000, AC+TV+Breakfast+Hot Water+Kulkas
Deluxe Rp. 375.000, AC+TV+Breakfast+Hot Water+Kulkas

c.       Hotel Ikhtiar Surya
Alamat: Jl. Gajah mada No. 09 Banyuwangi
Telp: 0333-423631
Rate:
Standart Rp. 110.000, Fan+TV+Breakfast
Moderate Rp. 160.000, AC+TV+Breakfast
First Class Rp. 185.000 - Rp. 385.000, AC+TV+Breakfast+Hot Water
VIP Rp. 315.000 – Rp. 400.000, AC+TV+Breakfast+Hot Water+Bathtub

d.      Hotel Baru
Alamat: Jl. MT. Haryono No. 82-84 Banyuwangi
Telp: 0333-421369
Rate:
Economic Rp. 92.000, Fan+TV+Breakfast
Standart Rp. 110.000, Fan+TV+Breakfast
VIP Rp. 185.000 – Rp. 265.000, AC+TV+Breakfast+Hotel Soap

e.       Hotel Selamet
Alamat: Jl. Kapten Piere Tendean No. 89 Banyuwangi
Telp: 0333-424675
Rate:
Fan Room Rp. 150.000
Standart Rp. 375.000
Superior Rp. 425.000
Deluxe Rp. 500.000
VVIP Rp. 575.000 – Rp. 675.000

f.       Puri Amelia
Alamat: Jl. Basuki Rahmat Gang Cempaka Putih No. 4 Banyuwangi (belakang Bank Sinar Mas)
Telp:
Rate:
Standart Rp. 75.000, Fan+TV u/ 1 orang
Standart Rp. 100.000, Fan+TV u/ 2 orang
Standart Rp. 140.000, AC+TV u/ 2 orang

g.      Hotel Sintana
Alamat: Jl. Karimun Jawa No. 15 Banyuwangi
Telp:
Rate: Rp. 100.000

h.      Hotel Permata Indah Permai
Alamat: Jl. Yos Sudarso No. 22 Banyuwangi
Telp: 0333-423260
Rate:
Single Bed Rp. 70.000, Fan+TV+Breakfast
Double Bed Rp. 70.000, Fan+TV+Breakfast
Single Bed Rp. 100.000, AC+TV+Breakfast
Double Bed Rp. 100.000 – Rp. 125.000, AC+TV+Breakfast

i.        Hotel Mahkota Plengkung
Alamat: Jl. Yos Sudarso No. 218 Banyuwangi
Telp: 0333-416586
Rate:
Twin/Double Bed Rp. 175.000, Fan+TV+Breakfast
Twin/Double Bed Rp. 250.000, AC+TV+Breakfast
Twin/Double Bed Rp. 390.000, AC+TV+Breakfast+Kulkas+Hot Water
4 Bed Rp. 690.000, AC+TV+Breakfast+Kulkas+Hot Water

Semua hotel di atas sudah dapat breakfast dan kamar mandi di dalam. Ya bayangan aja kalo kamar mandinya di luar hotel, atau numpang di tetangga sebelah, kan aneh. Masih banyak hotel yang belum disebutkan, karena belum sempat survey semua. Kalo ada info yang kurang jelas silahkan telpon hotelnya, bukan telpon saya yaaa. 

Kamis, 16 April 2015

Hai apa kabar? Bokek??? Sama dong :D
Berkunjung ke suatu tempat rasanya belum lengkap kalo gak nyobain kuliner setempat, apalagi kuliner khasnya. Mulai dari yang rasanya enak, enak banget sampai nagih banget. Mulai dari yang murah, agak mahal sampai yang gratisss. Apalagi yang doyan makan, sepertinya merupakan suatu kewajiban untuk mencicipi kuliner setempat. Gw sedikit mau berbagi foto-foto cemilan  dan es krim di  jepang yang wajib di coba. Ingat gw cuma berbagi foto, bukan berbagi makanannya.

1. Es Krim Cone
  • Harga sekitar 300 Yen, lokasi di sekitar tempat wisata Arashiyama, Kyoto. Gak usah bingung carinya, di sepanjang jalan banyak yang jualan dengan berbagai varian rasa. Antara lain cokelat, vanilla, dan tentunya rasa yang lagi nge-hits, green tea.


2. Okonomiyaki
  • Okonomiyaki adalah makanan khas kota Osaka, hampir di setiap tempat menjual Okonomiyaki. Tergantung yang punya restaurant mau jual atau gak, kalo mereka gak mau jual jangan dipaksa, nanti kalo diceramahi pakai bahasa Jepang baru tau rasa. Menurut gw rasanya mirip omelet, gak jauh beda. Omelet enak, Okonomiyaki lebih uenaaak. Harga gak tau, karena ditraktir sama orang Jepang. 

3. Es krim bertingkat
  • Es krim ini dijual di pasar Nakano, Tokyo. Kalo naik kereta, berhenti di stasiun Nakano bukan di stasiun Jatinegara. Nah keluar stasiun cari pasar Nakano, masuk dan turun ke basement. Lokasi toko es krim ini ada di lantai basement, sejajar dengan toko - toko sembako, daging dan bahan pokok lainnya. Rasa yang tersedia juga macam-macam, masing – masing warna rasanya berbeda. Semakin tinggi semakin mahal harganya. Begitu juga cewek, semakin cantik semakin mahal perawatannya. Lhooo apa hubungannya. Harga yang paling tinggi tingkatnya sekitar 400 Yen. Rasa? Jangan tanya, enak bianget.
4. Kue Moci
  • Ini kue moci Jepang, kalo kue moci Afrika gw belum pernah coba. Ya mungkin memang belum pernah ada kue moci Afrika. Harga 200 Yen,  dijual oleh pedagang asongan di depan Nagoya Castle dengan rasa yang biasa saja alias standar. 
5. Dorayaki
  • Dorayaki, siapa coba yang gak ingin makan kue ini. Lihat di film Doraemon saja sudah ngiler, apalagi langsung nyoba kuenya di tanah kelahiran Doraemon. Rasa penasaran yang begitu memuncak terobati sudah kehadiran dirimu di depan mulutku. Tssaaah. Harga kue ini hanya 130 Yen, iya hanya 130 Yen saja. Jangan dikali kurs Rupiah, bikin hati nyesek. Masa iya makan kue kecil begitu Rp. 13.000, kan jangkrik banget. Dorayaki tersedia di semua minimarket (konbini) di Jepang dengan rasa yang uenak bingit. Oh iya isi kue ini adalah kacang merah, kalo isinya kacang ijo ya onde – onde namanya bukan Dorayaki.

6. Ice Cream Crepes (begitulah gw menyebutnya)
  • Eskrim ini dibalut adonan tipis mirip adonan d’crepes. Ada 20 lebih kombinasi rasa, cokelat, pisang, vanilla dsb. Yang jual bukan cuma 1 toko, tapi ada beberpa toko dengan harga dan pilihan rasa yang sama. Penjualnya saja yang beda, toko pertama cantik, toko kedua cantik banget. Jadi pengen beli eskrim nya lagi deh. Harganya memang gak murah, 550 Yen. Lokasinya ada di Harajuku, Tokyo. Hanya 2 stasiun saja dari Shinjuku. Kalo temen gw bilang Harajuku ini seperti Malioboro di Jogjakarta, tempatnya anak – anak muda belanja barang – barang murah. Tentunya murah menurut anak Jepang. Ingat, abaikan model cewek di bawah.
7. Burger
  • Ya, di mana – mana burger memang banyak. Tapi burger ini gedenya gak kira-kira, hampir segede piring, niscaya pasti kenyang kalo makan sendiri. Rasanya enak banget, apalagi pake daging babi pasti lebih enak rasanya. Tapi Alhamdulillah gw gak makan babi, makan cewek iya. Dengan harga 500 Yen kamu sudah bisa makan burger ini dengan sangat brutal, dan tentunya piringnya jangan dimakan. Bukan hanya rasanya, burger ini juga menarik dilihat dengan tampilan irisan kol yang keriting mirip dengan jem….batan akar di pedalaman Kalimantan. Burger ini bisa dibeli di Komeda’s CafĂ© Nagoya, Purwokerto. Nagoya ya Jepang dong.
8. Takoyaki
  • Takoyaki artinya gurita, kalo cuci kaki silahkan diartikan sendiri. Dengan harga 4000 Yen untuk 2 porsi takoyaki, 2 porsi mie dan 2 porsi okonomiyaki,  kamu sudah bisa makan kenyang pake banget. Tentunya gw bayar patungan ber-empat, kalo makan sendiri dengan harga 4000 Yen lebih baik gw makan abon saja. Di Indonesia jika 4000 Yen dikonversikan ke Rupiah maka akan setara dengan HP Mito Dual Simcard, camera 8 Megapixel dan tentunya sudah dapat headset dan garansi setahun. Tempat makan ini bernama Creo-Ru Restaurant, The best takoyaki di Osaka, menurut teman Indonesia yang sedang study di Jepang. Dengan perjuangan mengantri selama 30 menit dan nunggu masakan tersaji di meja selama 15 menit, kami pun gak perlu waktu lama untuk makan dengan cara biadab. Ya mungkin secepat download video dengan modem Bolt

Sebetulnya masih banyak janda – janda muda makanan Jepang yang belum disebutkan di sini, karena lupa foto dan lupa namanya. Masih ada udon, katsu, sushi dsb yang belum sempat difoto karena dalam kondisi lapar dan teraniaya maka gak terpikir lagi untuk mem-foto, jadi langsung embat saja yang ada di meja. Kalo kamu mau makan tapi masih pegang kalkulator dan hitung kurs, kapan makannya dong. Nanti keburu mati, kasian pacar kamu (kalo punya).





Selasa, 07 April 2015


Banyuwangi memang sedang naik daun akhir – akhir ini karena pariwisatanya yang mulai dikenal luas wisatawan lokal maupun luar. Beragam acara diadakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi untuk lebih memperkenalkan Pariwisata Banyuwangi. Diantaranya Banyuwangi Tour de Ijen, Banyuwangi Batik Festival, Festival Wayang Kulit, Banyuwangi Ethno Carnival, Banyuwangi Jazz Festival sampai Festival Rujak Soto dan masih banyak lagi. Cek jadwal lengkapnya di sini . Jangan bingung dengan banyaknya acara – acara tersebut, cukup pilih beberapa dan sesuaikan tanggal untuk datang. Kalau kamu masih bingung dan tanggal tidak sesuai, berikut beberapa tempat wisata yang bisa dikunjungi diluar event tersebut.


  1. Gunung Ijen
Ada apa di sana? Yang jelas ada gunung. Gunung Ijen mempunyai danau kawah yang sangat indah dan merupakan salah satu danau kawah terbesar di Indonesia. Jarak dari pusat kota ke kaki Gunung Ijen (Paltuding) sekitar 2 jam yang dapat ditempuh dengan angkot sampai desa terdekat yaitu Desa Jambu dan dilanjutkan dengan menumpang truck penambang belerang, atau jika ingin lebih simple kamu bisa sewa sepeda motor dan kamu bisa menghemat waktu 30 menit. Setelah sampai di Paltuding kamu harus trekking sejauh 3 km yang bisa ditempuh dalam waktu 1 jam 30 menit sampai 2 jam, tentunya setelah kamu beli tiket masuk seharga 5 ribu rupiah saja. Dulu gunung ini hanya dikenal dengan penambang belerang-nya saja yang setiap hari memikul hasil tambangnya dari puncak sampai kaki gunung. Namun sekarang ada fenomena bluefire yang mulai terkenal dan hanya bisa dilihat jam 12 malam sampai jam 3 dini hari. Itupun jika kondisi cuaca mendukung dan tidak ditutup oleh petugas setempat. Jadi, pastikan dulu sebelum pergi ke sana. Dan ingat, jangan ke sana seorang diri, kecuali kamu jomblo
Gunung Ijen, Banyuwangi
  1. Pantai Pulau Merah / Red Island
Kamu akan mengira salah tempat jika berada disini. Kamu hampir pasti mengira ini di Pantai Kuta, Bali. Bukan, ini masih di seberang Pulau Bali. Sepintas Pantai Pulau Merah atau yang biasa disebut Red Island memang mirip Pantai Kuta. Dengan hamparan pasir putih yang luas dan puluhan payung – payung berjajar cantik secantik Shoimah menambah kemiripannya dengan pantai tetangga. Anjing- anjing pun berlari kesana kemari tanpa tujuan, seperti hidup para bujangan yang tak pasti menuju pelaminan … tssaah. Cuma penjaja bir dan seonggok pulau kecil yang membedakan dua pantai ini. Dan di sini pula tiap tahunnya diadakan acara International Surfing Competition. Jarak tempuh dari pusat kota sekitar 2 jam ke arah selatan dengan kendaraan bermotor, dan 4 hari jika berjalan kaki.

Payung, tidak dijual
  1. Teluk Hijau / Green Bay
Jika sudah ke Pantai Pulau Merah, jangan pulang. Lanjutkan perjalanan ke Teluk Hijau yang berada di Taman Nasional Merubetiri.. Hanya 1 jam dari Pulau Merah dan 3 jam dari pusat kota. Walaupun jarak tempuh 1 jam, tapi medan menuju ke sana tidak mudah. Jalan yang rusak dan berlubang, becek ketika hujan dan tentunya tak ada ojek yang mangkal. Jika sudah sampai di papan informasi yang ada di lokasi, anda masih harus trekking naik dan turun menuju pantai Teluk Hijau. Memang capek menuju ke sana, tapi setimpal dengan apa yang didapat. Laut yang berwarna hijau dan pasir yang putih bersih. Jika anda pergi membawa sampah, pulang pun bawalah sampah itu sebelum anda dianggap sampah.

Hijauuu…
  1. Taman Nasional Baluran
Kamu mau ke Afrika? Saya juga mau. Tak perlu jauh – jauh ke sana untuk menikmati liarnya satwa dan padang savanna. Kamu cukup datang ke Taman Nasional Baluran yang harga tiket masuknya hanya 5 ribu rupiah saja, di sini terdapat padang savanna dan satwa liar yang berkeliaran tanpa pagar dan tanpa diikat. Banteng, rusa, merak, ular sekalipun dapat kamu temukan di sini. Jika beruntung kamu dapat melihat rusa secara dekat, karena mereka hanya keluar jika sedang mencari air untuk minum dan malu – malu jika didekati. Dan tetap waspada terhadap monyet – monyet liar di sana. Sekali monyet ya tetap monyet. Jahil. Taman Nasional Baluran atau yang sering disebut Africa Van Java ini, berada di utara Banyuwangi dan berbatasan dengan Situbondo dan dapat ditempuh dengan waktu 30-45 menit dengan kendaraan pribadi atau 1 jam dengan bus umum. Atau jika kamu punya waktu yang banyak bisa dicoba dengan menggunakan becak yang memakan waktu 1 hari, syarat dan ketentuan berlaku.

Sekelompok rusa, momen yang langka
  1. Pantai Watu Dodol
Sepulang dari Taman Nasional Baluran tentunya kamu lapar. Perjalanan kembali menuju ke Kota Banyuwangi kamu akan melewati Pantai Watu Dodol, berjarak 15 menit dari kota. Di sana terdapat warung-warung semi permanen yang menjual aneka makanan dan minuman, tentunya ini bukan warung remang - remang. Sambil makan mie goreng atau rujak soto khas Banyuwangi, kamu akan disuguhi pemandangan gratis Selat Bali dan kapal – kapal Ferry yang berseliweran mengangkut penumpang Banyuwangi - Bali. Pulau Bali serasa dekat di depan mata, tapi jangan coba – coba berenang ke sana. Jauh bro. Dan jangan lupa bayar makanannya, karena yang gratis hanya pemandangannya saja. Oh iya, pantai ini dinamakan Watu Dodol karena di dekat pantai ada sebongkah batu yang sangat – sangat besar yang membelah jalan raya Banyuwangi – Situbondo. Konon, di saat pembangunan jalan yang dilakukan oleh Penjajah Belanda ini, batu tersebut tidak bisa dipindahkan sehingga tetap berada di sana dan membelah jalan raya Banyuwangi – Situbonda sampai sekarang, bahkan mungkin sampai besok.

Pantai Watu Dodol
  1. Pantai Boom
Bukan, pantai ini bukan banyak ranjau yang akan meledak dan booom… ini hanya sebuah nama. Nama Pantai Boom konon berasal dari Bahasa Belanda yang dipakai sampai hari ini, mungkin sampai besok, lusa atau di lain hari. Pantai Boom sekarang tidak seperti dulu yang kotor dan carut marut, sekarang lebih tertata dan rapih dengan payung – payung berjajar di tepi pantai dan tentunya perubahan itu dibayar dengan uang dua ribu rupiah sebagai tiket masuk, sudah gak gratis seperti dulu. Di sini kamu bisa menikmati es degan (kelapa muda) sambil melihat Pulau Bali yang di ujung hidung, begitu dekat begitu nyata. Tapi kalo renang ya teteup jauh coy. Pantai Boom terletak di tengah Kota Banyuwangi, bisa naik becak, ojek ataupun jalan kaki kalau kuat. Kalo waktu berkunjung terbatas, tidak perlu ke pantai yang jauh seperti Pulau Merah dan Teluk Hijau, Pantai Boom pun masih cucok.

Salah satu payung di Pantai Boom
Jadi masih mikir mau ke Banyuwangi?? Ya iyalah mikir ongkosnya

Kamis, 30 Oktober 2014


Day 1
30 menit sebelum mendarat pesawat goncang bukan kepayang. Begitu mendarat di Chubu Centrair International Airport Nagoya ternyata hujan deras dan bukan hujan biasa, tapi badaiii. Sholat sebentar terus ke stasiun kereta di bandara. By the way di bandara terdapat musholla, kaget aja ternyata di Jepang yang bukan negara muslim ada Musholla di bandaranya. Sesampai di stasiun kereta, ternyata keretanya gak jalan karena badai. Tapi pihak pejabat kereta sangat-sangat peduli. Jam 19.00 penumpang dioper pake bus bandara ke stasiun terdekat. Temen jalan gw, sementara nama disamarkan menjadi ‘Pak De’ janjian dengan temennya (Orang Indonesia) ketemu di Komeda's Coffee di sekitar stadion klub bola Nagoya Grampus di Mizuho. Setelah naik kereta seharga 810 yen dan keluar stasiun, kami cari Komedas Coffee yg.letaknya gak jauh dari stasiun Mizuho Undojo Higashi. Tapi badai belum berlalu. Nekat aja lari sama.bawa ransel. Basah2 dikit lumayan.

Musholla
Kafe tutup. Kami disuruh nunggu di parkiran di sebelahnya. Yang punya kafe juga gak enak sama kami. Dia sungguh baik, akhirnya kami dikasi payung 2 biji. Temen gw nyari hotel terdekat dg payungnya. Dan gw.setia menunggu di parkiran bersama beberapa gembolan.

Yang punya kafe ngomong pake bahasa jepang yang sama sekali gw gak ngerti. Kurang lebih intinya dia pamit pulang. Dan sempat2nya gw dikasih telur rebus 5 biji sebelum dia pulang. Akhirnya bahasa jepang satu2nya yg gw bisa pun keluar. Arigato gozaimas, sambil membungkukkan badan. Orang Jepang yang baik.

Temen gw masih belum dateng-dateng nyari hotel terdekat. Gw nunggu sambil ngisep sampoerna mild di negeri orang dan menikmati dinginnya suhu di luar yang kurang lebih 13 derajat, AC kalah.

Sekian menit kemudian temen gw dateng, tepatnya jam 22.15. Langsung ngajakin ke Nagoya Stasion. Cari hotel, hostel atau apapun yang penting bisa tidur. Perjalanan ke Nagoya Station sekitar 30 menit. Setelah sampe di Nagoya Station dia nyari free wifi. Dan akhirnya pesan2 masuk kabeh. Eeeh ternyata temen dia yg mau kita tumpangin tidur sudah nunggu di pintu keluar yg lain, exit 2. Akhirnya dia nyuruh balik lagi, dan saat itu sudah jam 23.20. Tepat jam 00.10 kita sampe di Mizuho Undojo Higashi, tentunya setelah habis 680 yen. Dan disambut Mas Argo sang tuan rumah di exit 2. Kami menuju tempat tinggal Mas Argo dan tentunya mampir ke mini market 24 jam beli makan malem yang harganya mirip dengan harga minumam di kafe tadi. Alhamdulillah akhirnya dapet tempat tidur, gak jadi terlantar. Gratis pula.

Masih gak bisa bayangin kalo gw sendirian aja yang nyasar disana. Gak bisa ngomong Jepang, gak bisa aksara nya, dan gak bisa internetan. Karena saat ini internet sudah jadi 'tuhan' baru, tempat kita bertanya dan meminta informasi.

Yaa untungnya ada Pak De sebagai temen jalan gw yang sudah ceplas ceplos ngomong Pepang kayak kopi encer. Dan rejeki tempat tinggal dari mas Argo telah menyelamatkan pundi-pindi walaupun hanya sehari. Terimakasih sangat buat mas Argo. Salim

Komedas Coffee
Day 2

Kemana hari kedua kami melangkah? Nagoya Castle yang terkenal itu. Gak lengkap rasanya kalo sudah ke Nagoya gak pergi ke sana. Berbekal map dan informasi yang agak-agak komplit, kami menuju kesana jam 8 pagi. Mata agak-agak kiyep, karena tidur cuma sebentar. Ya iyalah, kalo mau tidur lama ya di rumah aja. Oh iya, sebelum ke Nagoya Castle kami mampir ke toko kain di… temen gw mau beli oleh-oleh buat bapaknya. Padahal di Indonesia banyak toko kain berceceran di mana-mana. Tapi memang ada beberapa motif yang tidak ada di Indonesia. Warna-warna kain untuk seragam PNS juga ada, yang di Indonesia harganya 60 ribu per meter, di toko ini 250 ribu permeter. Mihil. Sebagai mantan pedagang kain gw cukup memahami harga dan macam-macam jenis kain.
Skip. Kembali ke stasiun dan kami menuju Nagoya Castle. Sebelumnya kami sudah beli tiket subway terusan, sehari ¥ 720. Lebih murah, daripada sekali jalan mesti bayar ¥ 280. Dan tolong jangan dibandingin dengan tiket Jatinegara-Gondangdia yang harganya dua ribu saja. Sakiiit.

Sampai di Nagoya Castle, kami bebas masuk dengan berjalan kaki ke dalam area Castle. Tentunya setelah bayar ¥ 800. Apa yang didapat disana? Sebuah bangunan kuno di kelilingi parit alias got raksasa yang tak ada airnya, seperti yang biasa kalian lihat di film-film, kalo kalian punya TV. Setelah foto-foto di luar Castle, kami masuk ke dalam bangunannya. Di lantai 2 terdapat miniatur kota tempo dulu, beberapa contoh rumah khas Jepang yang salah satunya adalah Hommaru Palace dengan skala 1;20 dan beberapa foto-foto dan informasi mengenai Nagoya Castle sendiri.

Perumahan tempo dulu

Hommaru Palace
Kemudian daripada itu, kami naik ke lantai 3. Karena tadi beli tiket yang harga ¥ 800, jadi kami boleh masuk ke area khusus yang isinya benda-benda bersejarah tentang kota Nagoya. Salah satunya ada surat tulisan tangan asli Kaisar atau yang mungkin Bupati di jamannya. Ada juga map atau peta strategi untuk berperang. Yang paling banyak adalah lukisan kaisar dan para kroni-kroninya. Juga dipamerkan beberapa senjata yang dipakai mereka berperang, salah satunya yaitu senjata modern berupa senapan laras panjang. Bukan Laras Santi. Berhubung tidak boleh bawa camera di area khususon tersebut, bukan berarti no pic=hoax.

Selesai menjajah Nagoya Castle kami kembali ke rumah. Rumah tempat kami numpang. Packing sejenak, terus lanjut jalan lagi (baca: numpak subway) di sekitaran Nagoya TV Tower. Kali ini mas tuan rumah ikut nganter kami, kebetulan dia juga ada janji disana dengan temannya orang Jepang yang mau dikenalin ke kami juga. Cewek pula.

Ini di atas Oasis 21, ada kolam di atasnya.
Sesampai di sana, sang temannya teman saya yang cewe tadi sudah menunggu. Tepat waktu, dia datang sebelum kami datang. Nggak ada jam karet, mereka selalu konsisten dengan waktu. Tapi nggak tau kalo soal cinta. Setelah kenalan sebentar dengan bahasa yang sok bisa, kami berempat menuju Oasis 21. Semacam bangunan tempat hangout dan kongkow-kongkow ABG Nagoya. Di atas bangunan ini ada kolam air. Iya kolam air beneran. Dari bawah hanya terlihat atap kaca yang samar-samar juga kelihatan ada air di atasnya.

Setelah puas explore Oasis 21 dan ngobrol ngalor-ngidul dengan bahasa Jepang (gw cuma pendengar setia, gak bisa bahasa Jepang), kami berempat langsung makan sore menjelang malam di Ootoya Restaurant. Enak dan bergizi, tapi hati-hati dengan babi. Gw pilih menu chicken katsu plus udon dengan porsi raksasa dan harga yang lumayan. Lumayan nguras khantong, ¥ 825. 

Mudah2an gak mengandung babi, karena yang mengandung adalah haram
Makan selesai, kami menuju Nagoya TV Tower. Masuk ke atas dengan tariff ¥ 700. Mahal, tapi Nagoya TV Tower cuma ada 1 di dunia. RCTI TV Tower juga cuma 1 di dunia. Setelah bayar tiket masuk, kami naik lift ke puncak tower dengan ketinggian 90 meter. Disana gw bisa lihat pemandangan kota Nagoya di malam hari. Sungguh beautiful. Apalagi Osasis 21 dilihat dari atas, cantik dengan pancaran cahaya dari lampu-lampu LED yang dipasang disekitarnya. Untuk selanjutnya biar gambar yang bicara gan, harga bisa nego tapi no afgan. Lah emang FJB Kaskus.

Oasis 21, view from Nagoya TV Tower
Nagoya TV Tower
Kelar wocing-wocing di sekitaran Nagoya TV Tower, kami buru-buru balik ke rumah temen lagi biar gak kemaleman karena harus ngejer bus ke Tokyo jam 22.50. Sekitar jam 8 sudah sampe di rumah temen, sholat sebentar, lanjut packing dan jam 9 kami berangkat ke Nagoya Station untuk naik Bus Whiller Express ke Tokyo. FYI, Nagoya-Tokyo memakan waktu 9 jam perjalanan atau setara dengan jarak Jakarta-Bogor PP 9 kali dengan kecepatan 120 km per jam gak pake rem.

Bus melaju perlahan-lahan, menyusuri pepohonan beton yang berhias lampu-lampu. Melamun melihat langit kelap-kelip dan masih teringat kebaikan Ibu telor di Comedas Coffee, dengan orang tak kenal pun ramahnya minta ampyun. Kesan pertama yang amat sangat positif yang gw dapat ketika menginjakkan kaki di Negeri Sakura ini mungkin tak akan terlupa, apalagi diiringi pemberian telor rebus 5 biji.

Di jepang, semuanya bayar. Hampir susah nyari yang gratis, kecuali toilet. 500 yen aja baru dapet secangkir kopi. Tapi bisa aja sih dengan uang 100 yen lo dapet makan siang mewah berupa sushi, minumnya jus anggur, snacknya takoyaki, dan ngopinya 5 cangkir. Gimana caranya? Ya dengan uang 100 yen tadi. Yen mbahmu perdana mentri Jepang. Arigatou gozaimasss.

Bonus: Cara menggunakan vending machine


 
Copyright (c) 2010 Orang Banyuwangi . Design by Wordpress Themes .

Themes Lovers , Download Blogger Templates And Blogger Templates .