Selasa, 26 Agustus 2014


Pulau merah, payungnya aja yang merah


Waktu itu, hari jum’at tanpa niat seperti Sholat dan tanpa bekal seperti orang sekolah kami ber-empat menuju Pulau Merah atau Red Island dengan tanpa persiapan. Mendadak. Tiba-tiba. Sebelum Sholat jum’at gw sms ke temen2 siapa yang mau ikut ke pulau merah. 6 orang yang jawab, yang ikut 4 termasuk gw. Yang lain pada kerja soalnya. Setelah diskusi yang cukup alot kayak daging kambing yang belum mateng2 banget, akhirnya kami kesana naik 2 motor boncengan. Awalnya mau pinjem mobil kakak, tapi ternyata dipake. Gw akhirnya pinjem motor kakak Yamaha X-ride yang masih gress dari delaer, plat nomornya aja masih belum keluar.

Eniwei perjalan dari pusat kota Banyuwangi ke Pulau Merah bisa ditempuh dalam waktu 2 jam naik motor. Tergantung siapa yang nyetir. Kalo Valentino Rossi mungkin bisa 1 jam, tapi gw bisa 1 jam 30 menit, gak pake rem. Jalannya bukan jalan mulus, semulus wajah J-lo atau sehalus paha Rihanna. Jalan berlubang? Ratusan. Jalan beriman? Banyak. Jalan menuju surga? Hampir.

Oh iya, Pulau Merah terletak di bagian selatan kota Banyuwangi tepatnya di Kecamatan Pesanggaran Desa Sumber Agung. Dari Pulau Merah agak ke selatan lagi ada Taman Nasional Merubetiri yang memiliki pantai Sukamade yang terkenal dengan penyu-nya, bukan penyusup bukan pula penyulik. Lebih ke selatan lagi ada Taman Nasional Alas Purwo. Tak cukup waktu 1-2 hari untuk ke semua tempat itu dengan medan yang susah dan transportasi seadanya. Mimimal naik trail, hardtop atau mobil 4x4 lainnya.
Sempat nyasar ke hutan jati yang gelap, akhirnya terselamatkan dengan bertanya kepada seorang ibu-ibu. “salah jalan mas, balik aja lagi”. Buset daaah, udah nyasar terlalu jauh akhirnya gw balik lagi, karena memang gak ada jalan lain. 

Alhamdulillah, akhirnya hujan deras. Jas hujan? Tentu gak ada, terjang hujan tak masalah. Masalahnya cuma basah dan nggigil. Sompret. Setelah berpacu dengan hujan sekitar 15 menit-an, hujan berhenti dan jalananpun kering kerontang. Orang basah, motor basah, tapi cuaca kering. Aneh, tapi nyata.
Dan kami berempat pun sampai di Pulau Merah, satu orang bayar dua ribu sebagai tanda jadi kalo mau masuk ke sana.

Manusia terlihat seperti semut

Lagi-lagi payung merah

Mata melongo, mulut berkaca-kaca. Gw kira nyasar ke Kuta, Bali. Eh ternyata ini Pulau Merah. Pasir putih, laut biru, ombak keceh dan bule 3 orang. Sepintas memang mirip pantai Kuta, tapi ya inilah Banyuwangi. Eksotisme alamnya gak kalah dengan tempat-tempat lain di Indonesia, bahkan dunia. Yassalam.
 
Masih ada sedikit sampah, tapi tetap cantik
 
Yang tengah namanya Opek, yang kanan tukang ojek dadakan
 
Ada apa sih di Pulau Merah? Pulau Merah menawarkan pasir putih, ombak yang indah, gugusan pulau-pulau kecil nyempluk seperti gundukan ‘anu’, sunset yang wow dan tentunya es kelapa muda. Di sini tiap tahun diadain lomba Surfing Internasioanal alias Banyuwangi Red Island International Surfing Competition. Ah mas-nya becandaaaa. Gak percaya?? Coba cek disini www.indonesia.travel. FYI, selain di Pulau Merah kompetisi surfing juga di adakan di G-Land atau pantai Plengkung yang ombaknya lebih amat maha dahsyat dari Pulau Merah.

Source: Indonesia.travel
 Ditengah asiknya menikmati indahnya Pulau Merah dan tentunya menikmati indahnya mbak-mbak pengunjung sana, gw dan teman-teman terusir dari kursi pantai dan payung seharga lima belas ribu rupiah yang disewakan oleh warga sekitar. Ya jelassss, mereka udah mau tutup karena sudah sore. Walaupun udah terusir, tapi gw gak mau pulang. Sunset disini gak kalah indah dibanding Kuta (lagi2). Ya gw emang sengaja menyamakan Pulau Merah dengan Pantai Kuta karena memang begitu adanya. Perbedaanya hanya di kafe-kafe, bule dan keramaian saja.

Matahari kinclup, kalo kata orang bule mereka bilang sunset
 
Adzan maghrib di hp sudah manggil-manggil, waktunya sholat dan pulang karena pantai juga sudah mulai sepi. Kami berempat pun menuju parkiran untuk beranjak dari Pulau Merah. Sempat terjadi perdebatan kecil antara gw dan temen gw, Opek. Pulangnya dia yang mau nyetir motor, karena gw dianggap ngebut dan ngawur. Akhirnya gw ngalah demi kemaslahatan ummat dan ukhuwwah islamiyyah. Kunci motor gw serahin ke dia. Dan brummm brummm kami pun berangkat.

Jalanan sudah gelap, sunyi dan sepi. Sesepi hatiku yang tanpa siraman rohani, maka akan hampa hidupku tanpanya. Eh maap kirain pengajian. Sudah sekkitar 15 menit gw diboncengin motor sama Opek. Dan……

Gubrak citttt grusuhh wosahhh harajuku grgrgrrgr. 

Tanpa sadar tiba-tiba gw udah nyium aspal, yang sebelumnya gw merasa kayak terbang tinggi ke langit ke 5 ½ . Seperti ada yang berbisik: kepakakkan sayapmu nak, kepakkan sayapmu. Kepakkan sayapmu cukkk. Belum sempat gw mengepakkan sayap (kayak yg punya ajaaa), gw udah merasakan betapa empuknya aspal jalanan liarrr. 

Mungkin si Opek berpikir kalo dia yang boncengin maka dia akan selamet. Maksud hati memang begitu, tapi maksud aspal berkehendak lain. Yaaa, ada lubang segede benua Afrika yang diterjang temen gw.  Segede itupun lubang masih gak keliatan, gimana segede Pulau Samosir?? Tapi nasi udah menjadi sushi, motor baru pun minta direparasi. Huffft.

Tapi bukannya sedih, gw dan temen-temen malah ngakak. Ngakak karena ngeliat ekspresi Opek yang mukanya pucat dan sedih, gak pantes sama body. Kami tuker pasangan motor, karena pemain utama cedera dan langsung cari Apotek terdekat buat perban luka-luka dan langsung menuju ke rumah (tentunya masih pake nyasar) yang jauhnya masih 120 menit dari titik tragedi berdarah. 

Alhamdulillah sampe rumah dengan selamat (udah jatuh masih bilang selamat??? Hellooooo). Tapi motor lecet-lecet, stang/setir bengkok, lampu sein somplak. Poor driver, poor bike. Indahnya pulau merah sudah terbayarkan dengan nyungsepnya manusia ini ke dalam lubang misterius. Tak ada sedikitpun rasa menyesal jauh-jauh kesana yang berhadiah es kelapa muda dan dengkul bertato aspal. Jangan kesana. Pokoknya jangan kesana kalo gak mau kesana. Salim.


4 komentar :

  1. wah! ini tipikal pantai yang aku suka, datar n landai mirip pantai kuta :D akses ke pantainya nggak bisa pake kendaraan umum kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bisa dan terbatas, pulang kesorean sudah gak ada kendaraan umum. Lebih baik sewa motor

      Hapus

 
Copyright (c) 2010 Orang Banyuwangi . Design by Wordpress Themes .

Themes Lovers , Download Blogger Templates And Blogger Templates .