Kamis, 30 Oktober 2014


Day 1
30 menit sebelum mendarat pesawat goncang bukan kepayang. Begitu mendarat di Chubu Centrair International Airport Nagoya ternyata hujan deras dan bukan hujan biasa, tapi badaiii. Sholat sebentar terus ke stasiun kereta di bandara. By the way di bandara terdapat musholla, kaget aja ternyata di Jepang yang bukan negara muslim ada Musholla di bandaranya. Sesampai di stasiun kereta, ternyata keretanya gak jalan karena badai. Tapi pihak pejabat kereta sangat-sangat peduli. Jam 19.00 penumpang dioper pake bus bandara ke stasiun terdekat. Temen jalan gw, sementara nama disamarkan menjadi ‘Pak De’ janjian dengan temennya (Orang Indonesia) ketemu di Komeda's Coffee di sekitar stadion klub bola Nagoya Grampus di Mizuho. Setelah naik kereta seharga 810 yen dan keluar stasiun, kami cari Komedas Coffee yg.letaknya gak jauh dari stasiun Mizuho Undojo Higashi. Tapi badai belum berlalu. Nekat aja lari sama.bawa ransel. Basah2 dikit lumayan.

Musholla
Kafe tutup. Kami disuruh nunggu di parkiran di sebelahnya. Yang punya kafe juga gak enak sama kami. Dia sungguh baik, akhirnya kami dikasi payung 2 biji. Temen gw nyari hotel terdekat dg payungnya. Dan gw.setia menunggu di parkiran bersama beberapa gembolan.

Yang punya kafe ngomong pake bahasa jepang yang sama sekali gw gak ngerti. Kurang lebih intinya dia pamit pulang. Dan sempat2nya gw dikasih telur rebus 5 biji sebelum dia pulang. Akhirnya bahasa jepang satu2nya yg gw bisa pun keluar. Arigato gozaimas, sambil membungkukkan badan. Orang Jepang yang baik.

Temen gw masih belum dateng-dateng nyari hotel terdekat. Gw nunggu sambil ngisep sampoerna mild di negeri orang dan menikmati dinginnya suhu di luar yang kurang lebih 13 derajat, AC kalah.

Sekian menit kemudian temen gw dateng, tepatnya jam 22.15. Langsung ngajakin ke Nagoya Stasion. Cari hotel, hostel atau apapun yang penting bisa tidur. Perjalanan ke Nagoya Station sekitar 30 menit. Setelah sampe di Nagoya Station dia nyari free wifi. Dan akhirnya pesan2 masuk kabeh. Eeeh ternyata temen dia yg mau kita tumpangin tidur sudah nunggu di pintu keluar yg lain, exit 2. Akhirnya dia nyuruh balik lagi, dan saat itu sudah jam 23.20. Tepat jam 00.10 kita sampe di Mizuho Undojo Higashi, tentunya setelah habis 680 yen. Dan disambut Mas Argo sang tuan rumah di exit 2. Kami menuju tempat tinggal Mas Argo dan tentunya mampir ke mini market 24 jam beli makan malem yang harganya mirip dengan harga minumam di kafe tadi. Alhamdulillah akhirnya dapet tempat tidur, gak jadi terlantar. Gratis pula.

Masih gak bisa bayangin kalo gw sendirian aja yang nyasar disana. Gak bisa ngomong Jepang, gak bisa aksara nya, dan gak bisa internetan. Karena saat ini internet sudah jadi 'tuhan' baru, tempat kita bertanya dan meminta informasi.

Yaa untungnya ada Pak De sebagai temen jalan gw yang sudah ceplas ceplos ngomong Pepang kayak kopi encer. Dan rejeki tempat tinggal dari mas Argo telah menyelamatkan pundi-pindi walaupun hanya sehari. Terimakasih sangat buat mas Argo. Salim

Komedas Coffee
Day 2

Kemana hari kedua kami melangkah? Nagoya Castle yang terkenal itu. Gak lengkap rasanya kalo sudah ke Nagoya gak pergi ke sana. Berbekal map dan informasi yang agak-agak komplit, kami menuju kesana jam 8 pagi. Mata agak-agak kiyep, karena tidur cuma sebentar. Ya iyalah, kalo mau tidur lama ya di rumah aja. Oh iya, sebelum ke Nagoya Castle kami mampir ke toko kain di… temen gw mau beli oleh-oleh buat bapaknya. Padahal di Indonesia banyak toko kain berceceran di mana-mana. Tapi memang ada beberapa motif yang tidak ada di Indonesia. Warna-warna kain untuk seragam PNS juga ada, yang di Indonesia harganya 60 ribu per meter, di toko ini 250 ribu permeter. Mihil. Sebagai mantan pedagang kain gw cukup memahami harga dan macam-macam jenis kain.
Skip. Kembali ke stasiun dan kami menuju Nagoya Castle. Sebelumnya kami sudah beli tiket subway terusan, sehari ¥ 720. Lebih murah, daripada sekali jalan mesti bayar ¥ 280. Dan tolong jangan dibandingin dengan tiket Jatinegara-Gondangdia yang harganya dua ribu saja. Sakiiit.

Sampai di Nagoya Castle, kami bebas masuk dengan berjalan kaki ke dalam area Castle. Tentunya setelah bayar ¥ 800. Apa yang didapat disana? Sebuah bangunan kuno di kelilingi parit alias got raksasa yang tak ada airnya, seperti yang biasa kalian lihat di film-film, kalo kalian punya TV. Setelah foto-foto di luar Castle, kami masuk ke dalam bangunannya. Di lantai 2 terdapat miniatur kota tempo dulu, beberapa contoh rumah khas Jepang yang salah satunya adalah Hommaru Palace dengan skala 1;20 dan beberapa foto-foto dan informasi mengenai Nagoya Castle sendiri.

Perumahan tempo dulu

Hommaru Palace
Kemudian daripada itu, kami naik ke lantai 3. Karena tadi beli tiket yang harga ¥ 800, jadi kami boleh masuk ke area khusus yang isinya benda-benda bersejarah tentang kota Nagoya. Salah satunya ada surat tulisan tangan asli Kaisar atau yang mungkin Bupati di jamannya. Ada juga map atau peta strategi untuk berperang. Yang paling banyak adalah lukisan kaisar dan para kroni-kroninya. Juga dipamerkan beberapa senjata yang dipakai mereka berperang, salah satunya yaitu senjata modern berupa senapan laras panjang. Bukan Laras Santi. Berhubung tidak boleh bawa camera di area khususon tersebut, bukan berarti no pic=hoax.

Selesai menjajah Nagoya Castle kami kembali ke rumah. Rumah tempat kami numpang. Packing sejenak, terus lanjut jalan lagi (baca: numpak subway) di sekitaran Nagoya TV Tower. Kali ini mas tuan rumah ikut nganter kami, kebetulan dia juga ada janji disana dengan temannya orang Jepang yang mau dikenalin ke kami juga. Cewek pula.

Ini di atas Oasis 21, ada kolam di atasnya.
Sesampai di sana, sang temannya teman saya yang cewe tadi sudah menunggu. Tepat waktu, dia datang sebelum kami datang. Nggak ada jam karet, mereka selalu konsisten dengan waktu. Tapi nggak tau kalo soal cinta. Setelah kenalan sebentar dengan bahasa yang sok bisa, kami berempat menuju Oasis 21. Semacam bangunan tempat hangout dan kongkow-kongkow ABG Nagoya. Di atas bangunan ini ada kolam air. Iya kolam air beneran. Dari bawah hanya terlihat atap kaca yang samar-samar juga kelihatan ada air di atasnya.

Setelah puas explore Oasis 21 dan ngobrol ngalor-ngidul dengan bahasa Jepang (gw cuma pendengar setia, gak bisa bahasa Jepang), kami berempat langsung makan sore menjelang malam di Ootoya Restaurant. Enak dan bergizi, tapi hati-hati dengan babi. Gw pilih menu chicken katsu plus udon dengan porsi raksasa dan harga yang lumayan. Lumayan nguras khantong, ¥ 825. 

Mudah2an gak mengandung babi, karena yang mengandung adalah haram
Makan selesai, kami menuju Nagoya TV Tower. Masuk ke atas dengan tariff ¥ 700. Mahal, tapi Nagoya TV Tower cuma ada 1 di dunia. RCTI TV Tower juga cuma 1 di dunia. Setelah bayar tiket masuk, kami naik lift ke puncak tower dengan ketinggian 90 meter. Disana gw bisa lihat pemandangan kota Nagoya di malam hari. Sungguh beautiful. Apalagi Osasis 21 dilihat dari atas, cantik dengan pancaran cahaya dari lampu-lampu LED yang dipasang disekitarnya. Untuk selanjutnya biar gambar yang bicara gan, harga bisa nego tapi no afgan. Lah emang FJB Kaskus.

Oasis 21, view from Nagoya TV Tower
Nagoya TV Tower
Kelar wocing-wocing di sekitaran Nagoya TV Tower, kami buru-buru balik ke rumah temen lagi biar gak kemaleman karena harus ngejer bus ke Tokyo jam 22.50. Sekitar jam 8 sudah sampe di rumah temen, sholat sebentar, lanjut packing dan jam 9 kami berangkat ke Nagoya Station untuk naik Bus Whiller Express ke Tokyo. FYI, Nagoya-Tokyo memakan waktu 9 jam perjalanan atau setara dengan jarak Jakarta-Bogor PP 9 kali dengan kecepatan 120 km per jam gak pake rem.

Bus melaju perlahan-lahan, menyusuri pepohonan beton yang berhias lampu-lampu. Melamun melihat langit kelap-kelip dan masih teringat kebaikan Ibu telor di Comedas Coffee, dengan orang tak kenal pun ramahnya minta ampyun. Kesan pertama yang amat sangat positif yang gw dapat ketika menginjakkan kaki di Negeri Sakura ini mungkin tak akan terlupa, apalagi diiringi pemberian telor rebus 5 biji.

Di jepang, semuanya bayar. Hampir susah nyari yang gratis, kecuali toilet. 500 yen aja baru dapet secangkir kopi. Tapi bisa aja sih dengan uang 100 yen lo dapet makan siang mewah berupa sushi, minumnya jus anggur, snacknya takoyaki, dan ngopinya 5 cangkir. Gimana caranya? Ya dengan uang 100 yen tadi. Yen mbahmu perdana mentri Jepang. Arigatou gozaimasss.

Bonus: Cara menggunakan vending machine


10 komentar :

  1. mantep rek, suwe ra ketemu ujug-ujug wes nang Jepang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahaha...wah disambangi sang maestro :D

      Hapus
  2. ceritanya guokil, mas. keren :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. ceritanya kan? bukan orangnya kan? :D

      Hapus
  3. habis baca langsung ngiler sambil komat-kamit doa #Ya Allah semoga aku bisa menginjakkan kaki kenegeri sakura# Aamiin

    BalasHapus
    Balasan
    1. Amiiin. Nabung juga jangan lupa mbak :D

      Hapus

 
Copyright (c) 2010 Orang Banyuwangi . Design by Wordpress Themes .

Themes Lovers , Download Blogger Templates And Blogger Templates .